Tembagapura adalah sebuah kota kecil yang berada di wilayah Indonesia Timur tepatnya di Papua. Kota Tembagapura ini terletak di lereng pegunungan jaya wijaya/cartenz dan kota ini sebagian besar penduduknya adalah karyawan perusahaan tambang terbesar di dunia yaitu PT. Freeport Indonesia.
Mengapa
saya bisa sebut Negeri Awan karena kota ini terletak pada ketinggian 2.500 mdpl
dan setiap harinya kota ini selalu diselimuti oleh awan awan tebal, mempunyai
iklim yang dingin berkisar antara 5-20oc dan juga kota ini jarang
berjumpa dengan matahari. Meskipun begitu, disaat kota ini tidak terselimuti
oleh awan maka kalian akan menemukan pemandangan yang sangat indah dan sangat
menyejukan mata.
Tembagapura sendiri baru berdiri pada tahun 1971. Sebuah
kota yang memeras tenaga dan pikiran untuk membangunnya. Maklum, letaknya di
ketinggian 2.500 meter dengan cuaca yang tak ramah serta udara yang dingin,
menyebabkan tiga tahun kemudian baru kota kecil ini rampung. Helikopter yang
dikerahkan dari pelabuhan laut Amamapare, 110 km di selatan Tembagapura,
berjuang melawan kondisi alam yang buruk untuk mengangkut alat-alat berat ke
lokasi Tembagapura.
Meskipun letaknya terpencil di belantara, saat ini
Tembagapura tak bisa dibilang sebuah kota kecil yang lepas dari modernisasi.
Justru di sinilah produk-produk mutakhir mudah ditemukan. Contohnya hampir
setiap rumah bisa menangkap siaran TV CNN Amerika. Hubungan telepon, teleks,
dan telekomunikasi lain ke segala penjuru – termasuk hubungan internasional –
bisa dilakukan dengan mudah oleh sekitar Tiga Puluh ribuan penduduk kota
tambang ini.
Tembagapura tidak lagi angker dan penuh misteri, seperti
ketika pertama kali Dozy menjejakkan kakinya di sana. Apalagi, banyak karyawan
yang diperbolehkan membawa serta keluarga mereka. Tak heran jika di sini
kemudian bisa ditemukan sekolah – sampai SMP – bagi anak-anak karyawan
penambangan. Juga rumah sakit dan fasilitas rekreasi serta olahraga. Sepintas,
ada warna Amerika yang mencuat dalam kehidupan para penambang di sini. Makanan
dan minuman – begitu juga daging dan sayuran – yang diangkut langsung dari
Australia, baju-baju dan celana jins yang sulit ditemui beredar di toko-toko
kota besar Indonesia dan juga gaya hidup Barat yang mulai menular. Memang,
sebagian sayur mayur dibeli dari penduduk setempat, atau petani di wilayah
Timika – sebuah lapangan udara perantara untuk mencapai Tembagapura. Sementara
kebutuhan air minum diperoleh dari sumber mata air di pegunungan Zaagkam, yang
kemudian disaring, sehingga bisa langsung diminum.
Jadi
bisa dibilang Kota ini terbangun karena adanya Perusahaan besar tersebut. Namun
dengan adanya Perusahaan tersebut sangat berdampak besar pada lingkungan
sekitar/masyarakat papua bahkan hampir secara keseluruhan pada kabupaten mimika.
Saya pernah beberapa kali berjalan keperkampungan/pelosok yang ada di area kota
Tembagapura nama perkampungan itu adalah banti, disana terdapat beberapa suku
yang ada di Papua dan saya melihat aktifitas yang ada disana dan perekonomian
yang ada di perkampungan itu jauh lebih baik sebelum adanya perusahaan tersebut
atau yang pernah kita dengar melalui televisi/berita, contohnya dari segi
pembangunan pada pedesaan/perkampungan banti dimana sekarang sudah ada
fasilitas-fasilitas seperti sekolah, infrastruktur jalan yang sudah layak dan
lain-lain.
Saya
harap pola pikir masyarakat di sana juga terpengaruh dengan adanya
kemajuan-kemajuan yang ada kampung halamannya misalkan apabila Perusahaan
tersebut sudah tidak lagi beroperasi masyarakat pribumi di area tembagapura
tidak ikut padam perekonomiannya dan dapat terus berkembang dengan memanfaatkan
pengalaman dan ilmu yang didapat sejak adanya perusahaan tersebut serta
Pemerintah juga turut aktif dalam membangun infrasturktur yang ada di papua
seperti yang sudah dilakukan Pemerintah Indonesia saat ini.
Sumber:



Komentar
Posting Komentar